BANGKA, TAJUKBABEL.COM,-
Isu pembubaran Pos Satgas PT Timah di kawasan Jelitik, Kecamatan Sungailiat, kian menguat dan memantik kecurigaan publik. Satgas yang selama ini menjadi gerbang penyekat arus pasir timah menuju smelter, disebut-sebut bakal ditarik dan dipindahkan ke wilayah Kepala Burung Kabupaten Bangka.
Langkah ini tentu saja bisa nilai sebagai langkah yang bukan sekadar rotasi biasa. Dibalik isu pemindahan tersebut, tercium aroma kuat dugaan permainan kotor yang sengaja membuka kembali jalur empuk bagi para penyelundup pasir timah untuk leluasa keluar-masuk kawasan Jelitik tanpa hambatan.
Pasalnya, selama beberapa waktu terakhir, keberadaan Pos Satgas PT Timah di Jelitik terbukti menjadi momok bagi para pemain besar. Sejumlah pasir timah milik para pengusaha dan penguasa dilaporkan gagal masuk ke smelter karena harus melewati pemeriksaan ketat di pos tersebut. Tak sedikit muatan yang tertahan karena asal-usulnya dinilai bermasalah dan tidak jelas.
Kabar yang dihimpun Tim Radak Babel bahwa di gudang para kolektor besar, pasir timah mereka sudah penuh dan siap dikirimkan ke beberapa smelter di Jelitik. Dengan raibnya Satgas dari Jelitik,tersirat dugaan pasir timah milik para kolektor ini akan melenggang mulus masuk ke gudang Smelter tanpa pemeriksaan
Jelitik Kembali Jadi Jalur Basah?
Jelitik selama ini dikenal sebagai salah satu titik rawan lalu lintas pasir timah, baik legal maupun ilegal. Keberadaan pos penyekatan Satgas PT Timah sebelumnya menjadi benteng terakhir pengawasan sebelum material tambang masuk ke jalur industri.
“Kalau pos itu benar-benar dibubarkan, maka Jelitik praktis kembali jadi jalur basah. Tidak ada lagi penyaring, tidak ada lagi pemeriksaan. Tinggal masuk,” ujar sumber Radak Babel yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Pemindahan Satgas ke wilayah Kepala Burung Bangka pun dinilai janggal. Pasalnya, kawasan Jelitik justru memiliki rekam jejak panjang sebagai titik krusial distribusi pasir timah.
PERMAHI Babel: Ini Kemunduran Penegakan Hukum
Ketua Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (PERMAHI) Bangka Belitung, Taufik Hidayat, menyayangkan isu pembubaran Satgas PT Timah di Jelitik tersebut. Menurutnya, langkah ini justru menimbulkan kecurigaan publik terhadap komitmen pemberantasan penyelundupan timah.
“Kami sangat menyayangkan jika benar Satgas PT Timah di Jelitik dibubarkan. Ini kemunduran serius dalam pengawasan dan penegakan hukum. Publik tentu bertanya-tanya, ada kepentingan siapa dibalik penarikan Satgas ini,” tegas Taufik kepada Radak Babel, Senin (5/1/2026).
Taufik menilai, selama Satgas berada di Jelitik, dampaknya sangat nyata. Banyak pasir timah bermasalah gagal masuk ke smelter.
“Faktanya, selama ada pos penyekatan, banyak pasir timah milik para pemain besar tidak bisa lolos. Kalau sekarang pos itu hilang, wajar jika muncul dugaan ada tekanan atau permainan agar jalur kembali dibuka,” lanjutnya.
Ia pun mendesak PT Timah dan aparat terkait untuk menjelaskan secara terbuka alasan pemindahan Satgas, agar tidak memunculkan persepsi negatif di tengah masyarakat.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari PT Timah maupun pihak Satgas terkait alasan pasti pembubaran dan pemindahan pos di kawasan Jelitik.
Diamnya pihak-pihak terkait justru memperkuat dugaan bahwa pemindahan Satgas bukan semata soal teknis, melainkan bagian dari skenario besar untuk melonggarkan kembali arus pasir timah menuju smelter.
Jika benar demikian, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kredibilitas pengawasan tambang, tetapi juga komitmen negara dalam melawan mafia timah yang selama ini diduga kuat bermain dibalik layar.












