Bayangkan 10 Tahun Bekerja di Perusahaan Minum VIZ Tidak Menerima Keadilan

  • Bagikan

Editor: Bangdoi Ahada
PANGKALPINANG, TAJUKBABEL.COM, — Ada pepatah lama yang bilang, air itu sumber kehidupan.

Tapi bagi 130-an karyawan perusahaan air minum kemasan merek ViZ, air rupanya juga bisa menjadi sumber kesabaran tingkat dewa.

Bayangkan, sepuluh tahun bekerja di perusahaan air minum, tapi yang mengalir bukan kesejahteraan, melainkan janji yang menguap seperti embun pagi.

Sepuluh tahun bukan waktu yang pendek. Itu sudah cukup lama untuk menamatkan sekolah dasar, menanam pohon kelapa sampai berbuah, bahkan cukup untuk menghafal lirik lagu dangdut dari era kaset sampai Spotify.

Namun bagi karyawan ViZ, sepuluh tahun itu dihabiskan untuk menunggu sesuatu yang seharusnya sederhana: gaji sesuai aturan, BPJS, cuti, dan THR.

Empat hal yang kalau diibaratkan menu warung makan, ini bukan lauk mewah. Ini nasi putihnya.

Ironisnya, perusahaan yang menjual air kemasan justru membuat nasib karyawannya terasa seperti sumur bor yang pompanya rusak.

Sang owner memdapatkan cuan yang mengalir deras, tapi entah kenapa susah keluar untuk mensejahterahkan karyawan.

“Entahlah Bang, sebenarnya lah lama kami melaporkan nasib kami ini ke media, ke pemerintah daerah, tapi tidak ada yang mau membantu kami. Alhamdulillah, teman-teman di Radak Babel yang mau mengangkat keluhan kami ini,” ujar Simpul bukan nama sebenarnya, karyawan ViZ yang sudah bekerja 8 tahun ini.

Baru dalam satu pekan terakhir, setelah keluhan para pekerja bocor ke publik, suasana mulai terasa seperti film drama keluarga yang akhirnya mempertemukan semua pihak di ruang tamu.

Disnaker Kota Pangkalpinang pun turun tangan. Kepala Disnaker Amrah Sakti bahkan membentuk tim khusus.

Ini langkah yang patut diapresiasi, karena biasanya yang “khusus” di negeri ini hanya diskon tanggal kembar di marketplace.

Hasil temuan Disnaker sendiri cukup bikin alis naik. Dari sekitar 135 pekerja, hanya segelintir yang upahnya sesuai UMP.

Sisanya? Masih diduga jauh dari kata layak. Status kerja pun beragam seperti menu prasmanan: ada PKWT, harian lepas, dan sedikit PKWTT yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari sambil ngemil kerupuk.

Disnaker memberi tenggat 14 hari untuk perusahaan memperbaiki status pekerja dan sistem pengupahan.

Empat belas hari. Waktu yang kalau dipakai menonton sinetron mungkin sudah cukup untuk tiga konflik rumah tangga, dua amnesia, dan satu pernikahan dadakan.

“Insya Allah, kami akan tetap berpegang teguh pada aturan yg berlaku. Bantu kami jika kami keliru. Dan tolong kami diingatkan,” ujar Amrah Sakti kepada media ini.

Semoga saja ucapan dan penegasan Kadisnaker Kota Pangkalpinang ini se sakti namanya.

Tapi untuk mengubah nasib pekerja, publik tentu berharap ini bukan sekadar episode filler.

Masalahnya, di balik cerita ini, beredar bisik-bisik tentang adanya sosok “Bos Besar” dari kalangan petinggi daerah yang disebut-sebut menjadi payung sakti perusahaan.

Kalau benar ada, ini menarik. Biasanya payung dipakai melindungi rakyat dari hujan, tapi di cerita ini, payung diduga melindungi perusahaan dari gerimis keadilan.

Publik tentu berharap sosok petinggi itu, jika memang ada, tidak salah fungsi. Karena jabatan itu seharusnya seperti filter air: menyaring kepentingan yang keruh agar yang keluar tetap jernih untuk masyarakat.

Kasus ViZ ini sebenarnya bukan cuma soal upah atau status kerja. Ini soal ironi yang terlalu telanjang.
<span;>Bagaimana mungkin perusahaan yang memproduksi air minum untuk kesehatan masyarakat justru berpotensi membuat kesehatan sosial para pekerjanya dehidrasi?

Karyawan ViZ hari ini sedang menunggu. Menunggu apakah Disnaker benar-benar akan menjadi keran perubahan, atau hanya menjadi galon kosong yang terlihat besar tapi ringan isinya.

Mereka juga menunggu apakah para pemilik kuasa akan memilih berdiri di sisi rakyat, atau tetap nyaman duduk di kursi empuk sambil menyeruput air mineral hasil keringat pekerja.

Semoga saja, kali ini air keadilan benar-benar mengalir. Tidak tersumbat. Tidak bocor di tengah jalan.

Dan yang paling penting, tidak hanya jernih di atas kertas, tapi juga terasa segar bagi mereka yang sudah sepuluh tahun menunggu seteguk kesejahteraan.

Karena kalau sampai keadilan saja harus inden sepuluh tahun, mungkin yang perlu diganti bukan hanya sistem perusahaan, tapi juga pipa nurani kita bersama.

Sementara itu, Owner ViZ Heri Santoso alias Acung yang sudah beberapa kali dikonfirmasi terkait persoalan karyawan ini, tidak pernah mau merespon.

Sumber : RD 05 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *