Hindari Media Danru MSP Titip Pasir Timah

  • Bagikan

Bangka, Tajukbabel.com,-

Pengakuan mengejutkan datang dari seorang pria bernama Ronal yang mengaku sebagai Danru PT MSP. Ia secara terbuka menyatakan bahwa penitipan pasir timah ke Gudang Besar Timah (GBT) Sungailiat dilakukan bukan semata soal administrasi, melainkan untuk menghindari sorotan media.

Pernyataan ini sontak memunculkan pertanyaan serius: sejak kapan media dianggap ancaman dalam pengelolaan komoditas negara bernilai strategis?
“Maaf, kami menitipkan pasir timah ini ke GBT untuk menghindari media. Kenapa media bisa masuk?” ujar Ronal, tanpa ragu, kepada Tim Radak Babel di lapangan.

Lebih jauh, Ronal mengklaim langkah tersebut dilakukan atas arahan dan masukan dari Satgasus PT Timah. Ia menegaskan, saran itu secara eksplisit bertujuan menjauhkan aktivitas pemindahan timah dari pantauan publik.

“Ini untuk menghindari media,” tukasnya lagi, seakan menegaskan bahwa transparansi bukan prioritas.
MSP Tutup, Timah Tetap Bergerak
Kejanggalan tak berhenti di situ. Berdasarkan informasi di lapangan, PT MSP diketahui telah tutup sejak 14. Namun pada malam kejadian, sekitar pukul 19.30 WIB, sebuah truk bermuatan pasir timah justru melintas dan dicegat di pos penyekatan.

Serka Hadi, yang melakukan pemeriksaan di pos, mempertanyakan asal dan tujuan truk tersebut. Lebih membingungkan lagi, nama penanggung jawab yang disebut sopir—Pak Sudayat—tidak dapat dihubungi, bahkan nomor teleponnya tidak diketahui.
“Katanya penanggung jawab Pak Sudayat, tapi orangnya nggak muncul, nomor HP pun nggak ada,” ungkap sumber di lapangan.

Upaya konfirmasi pun dilakukan ke berbagai pihak, mulai dari internal MSP, Bu Desi, hingga Pak Subari. Petunjuk terakhir mengarah pada keputusan sepihak: pasir timah dititipkan ke GBT sambil menunggu klarifikasi.
10 Ton Timah Tanpa IUP Jelas
Muatan yang diamankan bukan jumlah kecil. Sekitar 345 kampil pasir timah, diperkirakan mencapai 10 ton, dipindahkan dan dititipkan ke GBT Sungailiat.

Namun pertanyaan paling krusial hingga kini tak terjawab, Pasir timah ini berasal dari IUP mana?

Saat ditanya soal IUP, jawaban yang muncul justru memperlihatkan kekosongan tanggung jawab.
“Untuk IUP-nya sendiri, kami belum tahu,” ujar sumber yang terlibat pemeriksaan.

Ironisnya, di tengah ketidakjelasan asal barang, justru muncul dua nama yang disebut sebagai pihak bertanggung jawab: Chris dan Edy Saputra. Nama-nama ini mencuat bukan dari dokumen resmi, melainkan dari keterangan sopir—yang lagi-lagi menyebut sosok lain, Pak Sudayat, sebagai penanggung jawab awal.

Aparat dan Satgasus Dipertanyakan
Pantauan Tim Radak Babel sekitar pukul 23.30 WIB menunjukkan sedikitnya 5 petugas MSP dan 4 petugas keamanan PT Timah masih berjaga di depan ruang GBT. Kehadiran aparat pengamanan ini justru mempertebal tanda tanya:

Apa yang sebenarnya sedang diamankan—barang, atau cerita di baliknya?
Pengakuan bahwa penitipan timah dilakukan untuk menghindari media, terlebih dengan menyebut arahan Satgasus, menjadi alarm keras bagi publik. Transparansi, akuntabilitas, dan kejelasan asal-usul barang seharusnya menjadi prinsip utama dalam tata kelola timah, bukan justru disiasati.

Jika media dianggap musuh, lalu di mana posisi publik yang berhak tahu?
Hingga berita ini diterbitkan, asal IUP pasir timah, keabsahan penanggung jawab, serta peran sebenarnya Satgasus PT Timah masih gelap.

Aparat penegak hukum dan manajemen PT Timah didesak segera memberikan klarifikasi terbuka agar polemik ini tidak berujung pada kecurigaan lebih besar:

ada apa yang sedang ditutup rapat?
Tim Radak Babel berusaha mengkonfirmasi kepada Humas PT MSP Desi, pada Selasa (30/12/2025) sekitar pukul 23.30 WIB, namun hingga berita ini dinaikkan belum merespon. (RADAK)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *